Menguak Potensi dan Menggalang Sinergi Kalimantan Tengah
Senin 20 Desember 2010
Strategi
pembangunan iptek pada RPJMN 2010-2014 telah ditetapkan pemerintah
melalui dua prioritas pembangunan. Prioritas pertama adalah penguatan
Sistem Inovasi Nasional (SINas) sebagai wahana menuju impian pembangunan
Iptek dan prioritas kedua adalah peningkatan Penelitian, Pengembangan
dan Penerapan Iptek (P3 Iptek) dengan menggarap 7 fokus bidang prioritas
yaitu ketahanan pangan, energi, teknologi dan manajemen transportasi,
teknologi informasi dan komunikasi, teknologi pertahanan dan keamanan,
dan teknologi kesehatan dan obat, serta material maju. Tiga unsur dalam
penguatan SINas yang harus dikerjakan meliputi penguatan kelembagaan,
sumberdaya dan jaringan iptek.
Untuk menyampaikan format pembangunan
Iptek dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II tersebut, Deputi Bidang
Kelembagaan Iptek, bekerja sama dengan Rektor Universitas Palangka Raya
menyelenggarakan diskusi terbatas di Gedung Rektorat Universitas
Pangkaraya pada tanggal 16 Desember 2010.
Diskusi terbatas dibuka dan dipandu oleh
Kumpiady Widen, Pembantu Rektor I Universitas Palangka Raya. Pertemuan
tersebut merupakan pertemuan penting antara Kementerian Ristek (Pusat)
dengan UNPAR sebagai pusat intelektual Kalteng (Daerah). Pertemuan
tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan berbagai potensi daaerah
Kalteng dan mencari format sinergi pusat-daerah dalam meningkatkan
ekonomi daerah.
Dalam diskusi terbatas tersebut,
Benyamin Lakitan, Deputi Bidang Kelembagaan Iptek menyampaikan struktur
organisasi Kementerian Ristek dengan nomenklatur baru dan program utama
penguatan Sistem Inovasi Nasional. “Esensi pembangunan Iptek dalam SINas
adalah semua aktor kelembagaan termasuk pemerintah daerah bersinergi
meningkatkan daya saing melalui sentuhan Iptek yang sesuai dengan
kebutuhan dan kapasitas adopsi masyarakat pengguna. Informasi persoalan
dan kebutuhan tersebut menjadi sangat penting, untuk dapat merancang
secara tepat dan melaksanakan kegiatan bersama dengan memanfaatkan
kelembagaan yang telah ada. Kapasitas adopsi pengguna teknologi harus
sebanding dengan relevansi produk teknologi yang dihasilkan oleh
pengembang,” ungkap Benyamin Lakitan saat menjelaskan salah satu kunci
keberhasilan Sistem Inovasi Nasional.
Sesuai dengan tugas dan fungsi Deputi
Kelembagaan Iptek, yaitu menyiapkan perumusan dan mengkoordinasikan
pelaksanaan kebijakan di bidang kelembagaan Iptek, berdasarkan observasi
sementara Ristek, dalam konteks ketahanan pangan, ditengarai terdapat 3
isu pokok yang mengemuka yaitu pengelolaan lahan suboptimal,
kemaritiman dan pengembangan industri pedesaan/teknologi pasca panen.
“Diperlukan tumbuhnya pusat-pusat unggulan Iptek yang berorientasi pada
kebutuhan pasar/masyarakat pengguna, berciri khas spesifik, berbasis
sumberdaya lokal dan melibatkan masyarakat banyak, serta yang paling
penting menumbuhkan ekonomi daerah. Keterbukaan informasi potensi daerah
yang diimbangi dengan menggalang sinergi antar aktor menjadi faktor
keberhasilan tumbuhnya pusat-pusat unggulan”, jelasnya.
Dalam diskusi terbatas yang dihadiri
oleh sekitar 20 pimpinan Universitas Palangka Raya antara lain Purek I,
Purek II, Purek III, Kepala Lemlit, Kepala CIMTROP, Kepala LPM, para
Dekan, dan jajaran Kepala Pusat Studi, serta para peneliti senior.
Banyak terungkap beberapa potensi daerah yang perlu digarap lebih serius
secara berkelanjutan dengan mengedepankan keterpaduan program yang
perlu disusun bersama dalam mewujudkan pusat-pusat unggulan Iptek yang
berbasiskan pada potensi daerah Kalimantan Tengah. Salah satu contohnya
yaitu pengelolaan potensi lahan gambut yang diperkirakan mencakup
wilayah seluas 3,5 juta ha atau sekitar 22 % luas wilayah Kalimantan
Tengah.
Menutup acara FGD tersebut, Kumpiady
Widen berharap, “Ristek dan Pusat-pusat penelitian unggulan Universitas
Palangka Raya dapat mengawali dan mencari format sinergi kerjasama
pusat-daerah agar efisiensi dan efektifitas pembangunan iptek yang
berbasis pada kondisi dan kebutuhan daerah dapat terjadi.”
Pada kunjungan kerja tersebut, tim
Ristek terdiri dari Benyamin Lakitan, Sigit Asmara Santa, dan Irmawati
dengan difasilitasi oleh Akhmad Sajarwan, Kepala Puslit Sumberdaya Lahan
dan Perairan (P2SLP) Lemlit Universitas Palangka Raya, berkesempatan
mengunjungi areal lahan gambut di desa Dedahup, kecamatan Kapuas Murung,
yang berada pada wilayah A2 Proyek Lahan Gambut (satu juta ha ladang
gambut). Hampir seluruh wilayah yang dikelilingi oleh sungai Barito,
Kapuas, Kahayan, dan Sebangau itu digenangi oleh pasang laut ke hilir
sungai. Pada kesempatan tersebut tim Ristek sempat berdialog pula dengan
Adjun Ali Akbar, ketua kelompok tani, yang pernah belajar penyilangan
padi di Sukamandi. “Masalah utama yang dihadapi petani di sini adalah
masalah tata kelola air dan SDM. Namun kehidupan kami disini semakin
membaik. Kunci keberhasilan ada di orang-orang peneliti yang menerapkan
ilmunya di sini”, ungkap petani tangguh asal Kerawang ini. (AD-KK/ humasristek)